Gue masih inget dulu waktu kuliah desain, dosen gue selalu cerita tentang Salone del Mobile di Milan kayak mimpi yang mustahil dijangkau. “Itu pusatnya dunia, Nak. Semua desainer hebat pasti pernah ke sana.” Dan kita cuma bisa nganga sambil lihat foto-foto di majalah. Tapi sekarang? SaloneSatellite—pameran paling bergengsi buat desainer muda di bawah 35 tahun—hadir di Jakarta. Beneran, bukan lewat layar, tapi fisik. Dan ini bukan sekadar pameran biasa. Ini adalah momen pembalikan peta. Peta desain global yang dulu cuma muter di Milan, Paris, atau Tokyo, sekarang mulai bergeser ke Asia Tenggara. Dan Indonesia, tepatnya Jakarta, dipilih sebagai titik awalnya.
Sebenernya Apa sih SaloneSatellite Itu?
Oke, buat yang belum tau, gue jelasin dulu. SaloneSatellite itu adalah salah satu bagian paling prestisius dari Salone del Mobile.Milano—pameran furnitur dan desain interior terbesar di dunia. Didirikan oleh Marva Griffin Wilshire pada tahun 1998, SaloneSatellite dirancang khusus buat jadi panggung bagi desainer-desainer muda di bawah 35 tahun . Bayangin, ini kayak “panggung utama” buat talenta baru. Selama hampir tiga dekade, SaloneSatellite udah melahirkan banyak nama besar yang sekarang jadi ikon desain global .
Permanent Collection-nya sendiri berisi 415 objek yang udah dikurasi dari tahun ke tahun. Dan buat pameran di Jakarta, mereka milih 55 karya terbaik dari koleksi itu . Ini bukan cuma barang pameran, ini adalah sejarah hidup. Prototipe yang dulu cuma ide, kemudian jadi produk, lalu jadi ikon. Kayak lampu Spun karya Sebastian Wrong untuk Flos, atau meja Chab dari Nendo untuk De Padova . Semua itu akan ada di Jakarta. Gila, kan?
Jakarta: Pilihan yang Nggak Kebetulan
Terus kenapa Jakarta? Kenapa nggak Singapura atau Bangkok yang lebih “mewah”? Jawabannya ada di strategi besar Salone del Mobile. Jakarta dipilih sebagai pemberhentian pertama dalam tur internasional terbaru mereka . Sebelumnya, koleksi ini udah singgah di Hong Kong (2024) dan Paviliun Italia di Expo 2025 Osaka . Tapi Jakarta punya posisi spesial: ini adalah pembuka babak baru perjalanan global SaloneSatellite .
Menurut Marva Griffin Wilshire sendiri, “Membawanya ke Jakarta, sebagai pemberhentian pertama dari tur internasional baru Salone del Mobile, berarti terus menciptakan koneksi dan menunjukkan bahwa bakat, ketika menemukan konteks yang tepat, dapat bepergian jauh” . Intinya, Salone del Mobile melihat Asia Tenggara—dan Indonesia khususnya—sebagai wilayah yang sedang “panas” dalam perkembangan desain. Arsitektur, interior, dan ekonomi kreatif di sini lagi tumbuh pesat . Jadi, mereka nggak cuma pameran, tapi mau membangun jembatan antara warisan desain Italia dengan energi kreatif Indonesia .
Kasus Nyata: Saat Desain Lokal “Pulang Kampung”
Nah, di sinilah momen yang bikin gue merinding. Dalam pameran ini, ada satu karya yang secara simbolis sangat kuat: Plank Chair karya Studio Hendro Hadinata . Kursi ini dikembangkan bersama brand lokal Indonesia, EVERY Collections . Tadinya, Plank Chair udah “berkelana” di panggung internasional dan menjadi bagian dari koleksi global. Sekarang, dia “pulang” ke Jakarta .
Ini bukan cuma soal kursi, ini soal kebanggaan. Desainer Indonesia nggak cuma jadi penonton di pameran dunia, tapi karya mereka diakui dan dipamerkan di ajang seprestisius ini. SaloneSatellite juga memamerkan karya desainer Asia lainnya: vas bambu Shahril Faisal dari Malaysia, nampan logam Suntae Kim dari Korea Selatan, dan lampu Interlaced dari studio ViiChendesign Taiwan . Ini menunjukkan bahwa pengaruh SaloneSatellite udah lama melampaui Eropa . Dan Jakarta, sebagai tuan rumah, menjadi pusat dari pertemuan lintas budaya ini.
Dampak Lebih Besar: Bukan Cuma Pameran
Fenomena SaloneSatellite di Jakarta ini penting banget, dan gue liat ada tiga dampak besar yang bakal terjadi.
- Menggeser Narasi “Pusat Desain”. Selama ini, kita selalu melihat ke Barat sebagai pusat. Tapi dengan kedatangan SaloneSatellite, narasi itu mulai berubah. Indonesia nggak lagi jadi pasar konsumen, tapi mitra strategis dalam ekosistem desain global . CEO IDD PIK2, Ipeng Widjojo, bilang ini adalah “momen penting” yang mempertemukan keunggulan desain global dengan energi kreatif Indonesia .
- Membuka Peluang untuk Desainer Muda. Ini yang paling konkret. Pameran ini bukan cuma buat dilihat, tapi buat belajar dan terhubung. Ada 55 karya yang bisa dipelajari, dipelototi, dianalisis. Desainer muda Indonesia bisa melihat langsung bagaimana sebuah prototipe berevolusi jadi ikon global. Marva Griffin Wilshire bahkan akan hadir langsung sebagai Ambassador for Italian Design Day . Ini kesempatan emas buat networking.
- Membangun Ekosistem yang Lebih Kuat. SaloneSatellite nggak datang sendiri. Ini adalah bagian dari Indonesia Design Week (IDW) 2026 yang mengusung tema “Collective Culture” . Ada pameran, instalasi, diskusi, lokakarya, dan program komunitas di berbagai lokasi di kawasan PIK . Ini adalah ekosistem yang utuh, bukan cuma pameran instan.
Tips: Gimana Cara Maksimalin Pengalaman SaloneSatellite?
Buat lo yang pengen dateng dan nggak cuma jadi “penonton biasa”, gue kasih tips nih.
- Pelajari Sejarahnya Dulu. Sebelum dateng, cari tau dulu tentang SaloneSatellite. Baca tentang desainer-desainer yang karyanya dipamerkan. Ini bakal bikin lo lebih ngerti “cerita” di balik setiap objek. Jangan cuma lihat “wah, bagus”, tapi tanya “kenapa ini jadi ikon?”.
- Dateng di Hari Kerja atau Awal Pameran. Pameran berlangsung dari 18 September sampai 18 Oktober 2026 di Townhall IDD PIK2 . Kalo lo dateng di akhir pekan, pasti rame banget. Coba dateng di hari kerja atau minggu pertama biar bisa lebih leluasa ngelihat detail karya.
- Ikut Program Pendamping. IDW 2026 nggak cuma pameran. Ada diskusi, workshop, dan tur kuratorial. Ikutin itu. Dengerin langsung dari kurator atau desainer yang terlibat. Itu pengalaman yang nggak bisa lo dapetin cuma dari baca brosur.
- Bawa Buku Sketsa. Serius. Ini bukan saran lebay. Dateng ke pameran desain tanpa buku sketsa itu kayak nelayan pergi ke laut tanpa jaring. Catat ide-ide yang muncul, sketsa bentuk yang lo lihat, atau bahkan tulis pertanyaan buat diskusi nanti.
Kesalahan yang Sering Terjadi
- Dateng Cuma Buat Foto-foto. Iya, pamerannya Instagramable banget. Tapi kalo lo cuma dateng buat konten, lo bakal kehilangan esensinya. Pameran ini adalah arsip hidup, bukan latar foto. Luangkan waktu buat bener-bener ngelihat, bukan cuma difoto.
- Menganggap Ini Cuma Pameran “Barang Mahal”. SaloneSatellite bukan cuma soal produk mewah. Ini tentang proses kreatif. Gimana ide menjadi bentuk, gimana eksperimen jadi produk. Kalo lo cuma lihat “harganya”, lo kehilangan 90 persen ceritanya.
- Nggak Baca Label atau Deskripsi. Setiap karya pasti ada label yang menjelaskan latar belakang, material, dan tahun pembuatan. Baca itu. Itu adalah pintu masuk buat ngerti “kenapa” di balik “apa”.
Penutup: Ini Baru Awal, Bukan Akhir
Kedatangan SaloneSatellite ke Jakarta adalah tonggak sejarah. Ini bukan pameran biasa, ini adalah pengakuan bahwa Indonesia punya tempat di peta desain global. Dan yang lebih penting, ini adalah pembuka jalan. Salone del Mobile milih Jakarta sebagai titik awal tur internasional mereka . Artinya, ini baru langkah pertama dari perjalanan panjang.
Pertanyaannya sekarang, apakah kita siap menyambut momen ini? Apakah kita cuma akan jadi penonton yang antri foto di depan kursi impor, atau kita bakal jadi bagian dari ekosistem yang aktif belajar, berdiskusi, dan mencipta? Pilihan ada di tangan kita. Karena pada akhirnya, peta desain global memang berubah arah. Tapi kita yang menentukan apakah kita cuma ikut terbawa arus atau kita yang mengarahkan perubahan itu.