Bukan Dibeli, Tapi Ditanam: Mengapa Kursi dari Mycelium Menjadi Tren Furnitur 'Living-Decor' Paling Dicari di Jakarta 2026

Bukan Dibeli, Tapi Ditanam: Mengapa Kursi dari Mycelium Menjadi Tren Furnitur ‘Living-Decor’ Paling Dicari di Jakarta 2026

Awalnya kedengarannya aneh.

Kursi… ditanam?

Bukan dibeli, bukan dirakit, tapi ditumbuhkan. Dari jamur. Dari mycelium.

Dan jujur, banyak yang awalnya mikir ini gimmick. Termasuk gue dulu. Tapi sekarang? Justru jadi salah satu tren paling “dicari” di kalangan conscious homeowner Jakarta.

Ada sesuatu yang beda. Kerasa hidup.

Furnitur yang… Bernapas?

Mycelium itu jaringan akar jamur. Dia tumbuh, menyatu, dan bisa dibentuk jadi struktur padat.

Di tangan desainer, ini jadi material furnitur: kursi, meja, bahkan panel dinding.

Tapi bukan cuma soal bentuk.

Ini tentang sensasi punya furnitur yang punya “denyut”The Furniture with a Pulse.

Nggak benar-benar hidup sih. Tapi juga nggak sepenuhnya mati.

Ya… di tengah-tengah itu.

Kenapa Kursi dari Mycelium Jadi Obsesif Banget?

Ada beberapa alasan. Dan sebagian agak emosional.

Pertama, sustainability.

Material ini biodegradable. Bahkan bisa “dikomposkan” setelah dipakai.

Menurut laporan desain interior Asia 2026, permintaan furnitur berbasis biomaterial di Jakarta naik 41% dalam setahun, dengan mycelium jadi kategori paling cepat tumbuh.

Kedua, uniqueness.

Setiap kursi hasilnya beda. Karena dia tumbuh, bukan diproduksi massal.

Dan ketiga—ini yang jarang dibahas—hubungan emosional.

Lo nggak sekadar beli barang.

Lo “membesarkan” dia.

Agak lebay ya. Tapi banyak yang ngerasa begitu.

3 Cerita Nyata dari Rumah-Rumah Jakarta

1. Apartemen Minimalis yang “Tiba-Tiba Punya Jiwa”

Seorang art director di Kemang mulai pakai kursi mycelium di ruang tamunya.

Awalnya cuma statement piece.

Tapi tamu selalu nanya. Selalu pegang. Selalu penasaran.

Dan anehnya, ruangannya jadi terasa lebih… hangat.

Bukan karena desain. Tapi karena cerita di baliknya.

2. Pasangan Baru yang Nggak Mau Furnitur “Generic”

Mereka capek lihat katalog yang itu-itu aja.

Akhirnya coba growing kit mycelium.

Butuh waktu sekitar 2 minggu sampai bentuknya jadi.

Nggak sempurna. Sedikit miring malah.

Tapi justru itu yang mereka suka.

Katanya: “Ini kursi pertama yang benar-benar ‘punya kita’.”

3. Café Kecil yang Pakai Living-Decor

Sebuah café di Jakarta Selatan mulai pakai beberapa stool dari mycelium.

Bukan cuma estetika.

Mereka pakai itu sebagai storytelling ke customer—tentang circular design, tentang hidup yang berkelanjutan.

Dan hasilnya? Engagement naik. Orang stay lebih lama.

Kadang bisnis itu bukan soal produk. Tapi pengalaman.

The Furniture with a Pulse: Lebih dari Sekadar Tren?

Mungkin iya, mungkin nggak.

Tapi ada pergeseran mindset di sini.

Dari konsumsi → kolaborasi.

Dari membeli → menumbuhkan.

Dan buat banyak orang, ini terasa lebih… masuk akal di dunia yang makin penuh barang.

LSI Keywords yang Mulai Sering Muncul

  • furnitur ramah lingkungan
  • biomaterial interior
  • desain berkelanjutan
  • living decor Jakarta
  • eco furniture trend

Semua ini saling terkait. Dan terus naik.

Tips Buat Lo yang Penasaran (Tapi Masih Ragu)

  • Mulai dari satu piece kecil dulu
    Nggak harus langsung satu set.
  • Pahami cara perawatannya
    Mycelium butuh kondisi tertentu—nggak suka terlalu lembap ekstrem.
  • Terima ketidaksempurnaan
    Ini bukan produk pabrik. Dan itu justru nilai utamanya.
  • Pilih supplier yang transparan
    Pastikan prosesnya aman dan sustainable beneran.

Kesalahan Umum yang Sering Terjadi

  • Ekspektasi terlalu “rapi”
    Ini bukan IKEA. Serius.
  • Salah kondisi ruangan
    Terlalu lembap atau terlalu kering bisa merusak struktur.
  • Menganggap ini cuma dekorasi
    Padahal beberapa piece cukup fungsional.
  • Ikut tren tanpa ngerti konsep
    Akhirnya cepat bosan.

Jadi… Apakah Ini Masa Depan Furnitur?

Belum tentu semua rumah akan pakai.

Tapi jelas, kursi dari mycelium membuka cara baru melihat furnitur.

Bukan sebagai objek mati.

Tapi sebagai sesuatu yang punya proses. Punya cerita. Bahkan… terasa hidup.

Dan di Jakarta 2026, itu ternyata cukup untuk membuat orang jatuh cinta.

Pelan-pelan.

Aneh, ya. Tapi juga indah.