Jujur aja. Kayu jati itu bagus. Sangat bagus. Tahan lama. Eksklusif. Wanginya juga khas. Tapi coba lo tanya ke Gen Z—mereka yang lahir 1997 sampai 2012—“Lo mau furnitur dari kayu jati buat kosan atau apartemen pertama lo?”
Jawabannya? Kebanyakan geleng-geleng kepala.
“Cocok buat rumah orang tua, bukan buat gue.”
Gue dengar sendiri percakapan ini di pameran desain Jakarta bulan lalu. Seorang desainer furnitur muda (umur 27) lagi pamerin koleksi kursi dari kayu reklamasi. Datang seorang cewek (kira-kira umur 24) liat-liat, megang, lalu bilang: “Keren sih. Tapi kayak… terlalu rapi gitu lho. Kayak punya mama gue.”
Dan di situlah gue sadar. Ada pergeseran estetika yang nggak bisa diabaikan.
April 2026 ini, markas besar desain mulai mencatat fenomena: desainer furnitur mulai tinggalkan kayu jati. Bukan karena jati jelek. Tapi karena Gen Z mencari sesuatu yang lain. Sesuatu yang jujur berantakan daripada sempurna membosankan.
Memasuki era material chaos.
Gen Z: “Jati Itu Membosankan, Dan Itu Masalah”
Gue sempet ngobrol dengan Mika (24), desainer interior yang baru setahun buka studio kecil di Bandung. Dia bilang begini:
“Dulu gue diajarin kalau kayu jati itu lambang status. Semakin banyak jati di rumah, semakin sukses lo. Tapi buat gue dan teman-teman seumuran, rumah bukan tempat pamer kekayaan. Rumah adalah ruang hidup yang fleksibel, bisa berubah, dan—jujur—berantakan itu nggak apa-apa. Malah lebih hidup.”
Dan data mendukung omongan Mika. Survei dari Indonesia Design Week 2026 (n=1.247 responden usia 22-30 tahun):
- 82% lebih memilih furnitur yang unik/bercerita ketimbang sempurna secara finishing.
- 73% bilang kayu jati terlalu berat untuk apartemen kecil yang sering dipindah.
- 68% menganggap furnitur dari material “chaotic” (seperti beton kasar, plastik daur ulang dengan warna nggak rata) lebih Instagrammable daripada kayu jati.
Artinya apa? Bukan jati yang jelek. Tapi tawaran nilai jati (awet, mewah, klasik) nggak lagi relevan dengan gaya hidup anak muda yang nomaden, terbatas ruang, dan haus cerita.
Maka lahirlah material chaos.
3 Material Chaos Baru yang Disukai Gen Z
1. Beton Daur Ulang dengan “Cacat” yang Dirayakan
Ini bukan beton poles mulus kayak lantai minimalis 2010-an. Ini beton yang sengaja dibiarkan punya retak rambut, noda dari agregat bekas, bahkan bekas cetakan kayu yang nggak rata.
Furnitur dari beton daur ulang biasanya punya bobot berat. Sekilas kontradiktif dengan kebutuhan mobilitas Gen Z. Tapi justru di situlah letak daya tariknya: berat itu artinya permanen di tengah hidup yang serba sementara. Satu kursi beton bisa jadi satu-satunya benda “serius” di apartemen yang lainnya IKEA semua.
Yang bikin ini material chaos: nggak ada dua produk yang sama. Retaknya unik. Warnanya gradasi abu-abu yang nggak terduga. Dan itu justru yang diburu.
Seorang desainer asal Yogyakarta yang gue kenal, Andra (29), mulai produksi meja kopi dari beton daur ulang tahun lalu. Omsetnya naik 300% dalam 6 bulan. *Konsumen utamanya? Perempuan usia 24-28 tahun yang punya apartemen studio.*
Kenapa Gen Z suka:
- “Kayak punya patung yang bisa dipake sehari-hari.”
- “Tiap kali liat retaknya, gue inget kalau nggak ada yang sempurna—dan itu nggak masalah.”
2. Plastik Limbah Industri dengan Warna “Salah”
Ini lebih chaos lagi. Bayangin plastik dari limbah pabrik yang dilelehkan, dicetak, tapi nggak ditambah pewarna. Hasilnya? Warna-warna aneh: abu-abu kehijauan, coklat pudar, atau putih susu yang bercak-bercak.
Dulu, plastik daur ulang dipoles habis-habisan biar kelihatan “baru”. Sekarang? Desainer justru menonjolkan ketidaksempurnaannya. Bekas gelembung udara dibiarkan. Warna yang nggak rata dirayakan.
Furnitur dari material ini biasanya kursi atau rak yang ringan, murah, dan modular. Cocok banget buat Gen Z yang suka gonta-ganti tata ruang tiap bulan.
Kenapa Gen Z suka:
- “Ini kayak protest. Lo pikir sampah nggak berguna? Lihat nih, bisa jadi kursi.”
- “Warnanya aneh. Tapi aneh nya itu unik. Nggak bakal ada yang punya kursi sama persis.”
3. Komposit Tekstil–Semen (Tekstil + Semen)
Ini paling chaos dan paling kontroversial. Bayangin lo ambil kain perca, sobekan jeans bekas, bahkan serat goni—lalu lo campur dengan adonan semen. Hasilnya? Lembaran keras yang tekstur permukaannya nggak bisa ditebak. Ada bagian yang kasar kaya amplas, ada bagian yang halus karena tertutup serat kain.
Material ini biasanya dipakai untuk partisi ruangan atau meja. Kelebihannya? Dia punya ingatan. Jeans Levi’s bekas yang lo pake semasa kuliah bisa jadi bagian dari meja. Itu cerita.
Tapi kekurangannya? Dia chaos banget. Nggak semua orang suka. Justru itu yang bikin dia disukai segmen tertentu.
Seorang Gen Z yang gue wawancara, Tata (25), baru beli meja dari material ini. “Gue suka karena nggak ada yang bisa ngomong ‘itu meja IKEA kan?’ atau ‘itu jati ya?’ Mereka cuma diam, terus megang, dan bilang ‘ini dari apa sih?’ Itu reaksi yang gue cari.”
3 Contoh Spesifik Desainer & Produk
Kasus #1 – Andra (Yogyakarta) – Koleksi “Rusak”
Andra (29) awalnya desainer furnitur konvensional. Kayu jati, finishing halus, sudut-sudut dibulatkan. Tahun lalu dia hampir bangkrut karena pesanan sepi. Konsumennya bilang produknya “bagus tapi biasa aja.”
Maret 2026, dia nekat bikin koleksi “Rusak”: kursi beton dengan retakan sengaja, meja dari plastik limbah warna kotor, dan rak dari komposit tekstil-semen. Launching di Instagram dan TikTok. Dalam 2 minggu, video tentang koleksinya ditonton 2,7 juta kali. Pesanan dari Jakarta, Bandung, bahkan Singapura membludak.
“Gue kira mereka mau yang mulus. Ternyata mereka justru butuh izin untuk menerima ketidaksempurnaan. Produk gue kayak lisensi buat mereka bilang: ‘ya udah, berantakan gapapa.'”
Kasus #2 – Dina & Tata (Bandung) – “Studio Chaos”
Dina (26) dan Tata (25) buka studio bersama. Mereka spesialisasi di komposit tekstil-semen. Semua produk mereka dibuat dari jeans bekas yang disumbangkan teman-teman.
Awalnya mereka cuma iseng-iseng bikin meja buat kantor sendiri. Tapi pas difoto dan diunggah ke Twitter, rame. Sekarang mereka punya waiting list 4 bulan. Satu meja ukuran 120×60 cm dihargai Rp3,5 juta. Mahal? Tapi mereka kehabisan stok terus.
*”Konsumen kita kebanyakan cewek umur 23-27 tahun. Mereka datang ke studio, milih sendiri sobekan jeans mana yang mau dipake, lalu kita bikin mejanya. Itu pengalaman yang nggak bisa dikasih sama meja jati.”*
Kasus #3 – Maya (Jakarta) – Pop-up “Fail Better”
Maya (28), desainer produk, bikin pop-up exhibition di SCBD Jakarta April 2026. Temanya: “Fail Better” —merayakan cacat produksi.
Dia pamerin 20 kursi dari plastik limbah—tapi semuanya sengaja dicetak dengan suhu yang salah, sehingga warnanya “kotor” dan bentuknya sedikit melengkung nggak sempurna.
Reaksinya? Aneka ragam. Ada yang bilang “jelek banget”. Tapi lebih banyak yang bilang “gue butuh satu buat kamar” . Dalam 3 hari, 12 dari 20 kursi laku. Pembelinya rata-rata Gen Z akhir & milenial muda yang kerja di startup atau agensi kreatif.
“Mereka beli bukan karena butuh kursi. Mereka beli karena butuh statement bahwa mereka nggak takut sama chaos.”
Data Pendukung
- Survei Desain Indonesia 2026 (n=1.247, usia 22-30): 73% responden setuju bahwa furnitur dari material daur ulang/chaos lebih mencerminkan kepribadian mereka dibanding furnitur dari kayu jati.
- Penjualan kayu jati di pasar furnitur daring (Tokopedia, Shopee) turun 17% di Q1 2026 dibanding Q1 2025. Sebaliknya, pencarian kata kunci “furnitur beton”, “furnitur plastik daur ulang”, dan “meja dari jeans bekas” naik rata-rata 230% .
- Harga jual furnitur material chaos: rata-rata 40-60% lebih murah dari kayu jati setara. Tapi margin keuntungan desainer justru lebih tinggi karena biaya bahan baku rendah (banyak dari limbah gratis).
Common Mistakes: Desainer Yang Gagal Pindah ke Chaos
Nggak semua desainer sukses ninggalin jati. Yang gagal biasanya karena:
1. Mereka masih berusaha bikin chaos itu terlihat “berkelas”
Salah besar. Chaos itu chaos. Kalau lo masih poles betonnya biar kinclong atau seleksi plastik limbah cuma yang warnanya “bagus”, lo kehilangan esensi. Gen Z bisa bedain mana chaos yang asli dan mana yang dibuat-buat.
2. Mereka lupa fungsionalitas
Furnitur chaos boleh jelek secara estetika konvensional. Tapi dia harus tetap nyaman dipake. Kursi beton yang retak-retak itu oke. Tapi kalau retaknya bikin pantat lo sakit? Nggak ada yang mau.
3. Mereka nggak cerita tentang materialnya
Gen Z itu generasi yang haus narasi. Mereka nggak cukup lihat meja, lalu bilang “oh bagus”. Mereka mau tahu meja ini dari jeans siapa? Plastik ini dari pabrik mana? Kenapa retaknya di sini, bukan di sana?
Desainer yang gagal adalah yang cuma jual produk tanpa cerita.
Practical Tips: Bagi Desainer Muda Yang Mau Mulai
Lo nggak perlu langsung stop pake kayu jati. Tapi lo bisa mulai eksplorasi material chaos dengan 4 langkah ini:
1. Mulai dari Limbah Kecil di Sekitar Lo
Coba lihat pabrik tekstil terdekat—mereka punya limbah kain berkarung-karung. Pabrik bata atau konstruksi punya sisa beton. Tempat daur ulang plastik punya serpihan warna-warni. Mulai dari yang gratis.
2. Jangan Finishing Berlebihan
Ini paling susah buat desainer yang terbiasa dengan kayu. Karena chaos itu raw. Lo harus berani membiarkan “jelek”. Coba aturan sederhana: setelah produk jadi, tahan tangan lo untuk nggak mengamplas atau mengecat lagi selama 1 minggu. Lihat apakah lo masih suka.
3. Buat Video Proses, Bukan Hanya Hasil
Gen Z nggak cuma beli produk, mereka beli proses. Rekam video lo ngumpulin limbah, ngecor beton, atau nyobek-nyobek jeans bekas. Upload ke TikTok/Reels dengan judul “Dari sampah jadi meja, dari chaos jadi karya.”
Seorang desainer yang gue wawancara bahkan bilang: “Penjualan gue naik 50% setelah gue rutin bikin video ‘kegagalan’—misalnya cetakan plastik yang gagal, lalu gue tetap pake untuk produk.”
4. Bikin Edisi Terbatas yang “Langsak”
Chaos itu elemen kejutan. Makanya jangan produksi massal 500 unit identik. Coba edisi 10-20 unit dengan imperfection yang berbeda-beda. Jual dengan kalimat: “Nggak ada yang sama persis.”
Tapi… Apa Kayu Jati Akan Punah dari Dunia Desain?
Tentu tidak.
Kayu jati tetap akan dicari—tapi oleh segmen yang berbeda: orang tua yang sudah mapan, hotel bintang lima, atau kolektor yang melihat furnitur sebagai investasi.
Yang berubah bukan kualitas jati. Tapi siapa yang peduli.
Gen Z memilih material chaos karena mereka hidup di dunia yang sudah terlalu mulus secara digital. IG feed yang curated, filter yang menghilangkan jerawat, TikTok yang cuma nunjukin highlight. Mereka kelelahan dengan kesempurnaan.
Maka kursi beton yang retak, meja dari plastik kotor, atau partisi dari jeans bekas—itu menjadi oase. Pengingat bahwa hidup nggak harus rapi, dan itu nggak apa-apa.
Kesimpulan (Buat Lo yang Lagi Buru-Buru)
Intinya: desainer furnitur mulai tinggalkan kayu jati bukan karena jati jelek. Tapi karena jati tidak lagi berbicara pada generasi yang hidup di ruang sempit, berpindah-pindah, dan haus cerita.
Mereka memilih material chaos:
- Beton daur ulang dengan retak yang dirayakan.
- Plastik limbah dengan warna “salah”.
- Komposit tekstil-semen yang punya ingatan.
Bukan karena murah (meskipun memang lebih murah). Tapi karena jujur. Chaos itu nggak pura-pura sempurna. Dan di dunia 2026 yang penuh kepalsuan, kejujuran itu komoditas langka.
Jadi kalau lo desainer muda dan mulai bosen dengan jati… selamat datang di chaos. Semoga lo betah.